Minggu, 31 Mei 2020

Tidak Ada Perbaikan Jalanan Rusak di Desa Ujung Gebang, Kabupaten Cirebon.

     Desa Ujung Gebang merupakan kampung halaman saya. Saya melihat jalanan-jalanan desa lain di kabupaten Cirebon sudah banyak yang di aspal. Tetapi, hal itu tidaklah terjadi di desa yang merupakan kampung halaman saya ini.
Jalanan masih seperti dahulu, tidak diaspal dan banyak jalanan berlubang serta licin. Ada beberapa kejadian kecelakaan kecil seperti pengendara motor dan pengendara sepeda jatuh karena jalanan yang berlubang dan licin tersebut.
     Pengalaman saya ketika mengendarai motor untuk pergi ke warung diperjalanan ada jalan yang berlubang dan licin. Karena banyaknya lubang saya harus mencari jalan yang setidaknya masih bisa dilewati. Saya mengendarai motor dengan kecepatan sedang dan tidak melihat adanya jalan yang berlubang itu dan akhirnya saya terjatuh. 
     Dari beberapa kejadian tersebut membuat warga sekitar tidak nyaman dengan infrastruktur yang tidak dilirik pemerintah. Pasalnya warga sekitar sudah membayar pajak setiap tahunnya tetapi tidak ada timbal balik dari pemerintah. Saya berharap pemerintah di desa Ujung Gebang, Kabupaten Cirebon ini segera bertindak lebih lanjut mengenai perbikan jalan yang rusak.
Hormat saya,

Nur Awaliah Rahmah

IDENTIFIKASI STRUKTUR SURAT PEMBACA YANG BERJUDUL “KERETA API YANG MENUNDA KEBERANGKATAN SANGAT LAMA”


Judul : Kereta Api yang Menunda Keberangkatan Sangat Lama

Lokasi dan Waktu Kejadian : stasiun Sukasuka. Tanggal 1 April 2018, pukul 08.00 pagi

Kejadian yang Dialami : Tidak ada konfirmasi pemberitahuan tentang penundaan keberangkatan kereta api.

Kronologis Kejadian :  Pada tanggal 1 April 2018 yang lalu, saya hendak pergi ke kota Sukakopi dengan menggunakan kereta api. Saya tiba di stasiun Sukasuka pada pukul 08.00 pagi, satu jam sebelum keberangkatan. Pada saat itu situasi cukup ramai, namun tidak sampai berdesak-desakan. Saya mengantri tiket selama 15 menit kemudian saya bersiap-siap masuk ke dalam kereta.
Setelah saya duduk di dalam kereta, saya sibuk membaca koran hingga saya melihat jam tangan saya tepat menunjukkan pukul 09.00, waktunya kereta berangkat ke kota tujuan. Namun, hingga pukul 09.15, kereta tidak juga berjalan, tidak ada pula pemberitahuan tentang penundaan keberangkatan, tidak ada juga pegawai atau petugas yang hadir di dalam gerbong kereta. Hingga pukul 10.00, keadaan belum juga berubah. Penumpang yang lainnya tampak santai-santai saja menghadapi penundaan keberagkatan yang tidak ada kejelasannya tersebut. Saya berusaha mencari petugas di dalam kereta. Yang saya temui hanyalah petugas kebersihan. Ketika saya tanyai, ia menjawab bahwa penundaan tersebut sudah sering kali terjadi, sehingga penumpang yang lain tidak akan panik. Hal tersebut tentu sangat merugikan, apalagi tidak ada satupun pengumuman yang diberikan pada penumpang. Pada pukul 10.10 barulah kereta berangkat. Kejadian tersebut membuat saya terlambat 1 jam 30 menit dalam menghadiri rapat kantor. 

Kritik Penulis : Pelayanan tersebut sangat mengecewakan, apalagi hal tersebut menyangkut waktu keberangkatan yang molor sangat lama dari jadwal seharusnya.

Saran yang Diajukan Penulis : Saya berharap pihak pemerintah dapat menertibkan permasalahan tersebut mengingat bahwa stasiun Sukasuka adalah stasiun kereta api yang berada dalam naungan pemerintah.

Identitas Penulis : Anton Jaya, warga tegal

Kamis, 21 Mei 2020

Adithia Syahbana : Membentuk Gaya Penulisan Diri untuk Penulis


Adithia Syahbana : Membentuk Gaya Penulisan Diri untuk Penulis

Aku, Tuhan, Kamu
Oleh Adithia Syahbana

Aku melihat tuhan padamu
Namun kamu tak seperti tuhan.

"Bolehkah seperti itu?"

tuhan melihat aku padamu
Namun kamu tak seperti aku.

"Ini bohong?"

Kamu melihat aku pada Tuhan
Namun aku tak seperti Tuhan--

;Dalam mencintai.

[ 2019 ]

Lelaki berumur 22 tahun ini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UGJ dan dikenal sebagai penyair muda. Ia populer di kalangan  kampusnya. Kekhasan Adit adalah aktif menulis dan memiliki keunikan.
‘Adithia’ atau ‘Adit’ kerap menjadi nama panggilan kesehariannya. Adithia Syahbana dilahirkan 6 Desember di Cirebon, Jawa Barat. Kini ia bertempat tinggal di desa Karang Malang RT/RW  : 02/05, kecamatan Karang Sembung, kabupaten Cirebon,  Jawa Barat. Ia menyelesaikan jenjang pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 2 Karang Malang tahun 2011. Kemudian melanjutkan jenjang sekolah menengah pertama di SMP Negeri 1 Karang Sembung sampai tahun 2014 dan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Lemahabang sampai tahun 2017. Ia melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan tinggi dan mengenyam pendidikan di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ia mulai menulis ketika kelas 2 SMA. Awalnya ia menulis cerpen dan novel tentang kehidupan, cinta, dan teman di akun media sosial yang ia miliki. Teman-temannya pun tertarik dengan hobinya tersebut hingga meminta dibuatkan kisah hidupnya. Namun, ia merasa tak sanggup menyelesaikan tulisan itu sampai menjadi buku. Pada saat memasuki jenjang perguruan tinggi, ia bertemu teman baru dan dosen yang mengarahkan hobinya pada puisi. Kemudian  ia mengikuti komunitas “Juang sastra Unswagati” dan “Senja Sastra” dan mulai saat itu ia menekuni hobinya sebagai penulis. Motivasi Adithia Syahbana menjadi seorang penulis awalnya hanya sebagai terapi diri dan menjadi diri sendiri dari kehidupannya yang gaduh dan resah. Selain itu, aktif dalam komunitas sastra adalah untuk menyehatkan pikirian dan perasaannya yang sebenarnya sehingga ia menyampaikannya melalui tulisan yang ia tulis.

Silih bertukar tanda tangan dengan 
Kang @acep_zamzamnoor pada anak masing-masing. 
Semoga kelak kuseperti beliau. Tabik. 
Jangan lupa tersenyam, berbahagia dan bersyukur 
dengan puisi./Foto dok. Instagram as.bana_

Pada saat menulis karyanya, ia sempat mengalami kesulitan dalam menulis dan sempat berhenti menulis. Lingkar Kompleksitas yang merupakan salah satu dari karyanya itu sempat menjadi bahan diskusi dengan salah satu lima penyair terbesar di Indonesia yakni Acep Zamzam Noor dan kemudian diberi pencerahan oleh beliau bahwa “Dunia  kepenyairan adalah dunia belajar yang tiada henti”. Setiap buku yang diliris oleh Adithia ini kerap kali membicarakan tentang seorang wanita yang menjadi inspirasinya dalam menulis dan menjadikan tulisannya sebagai curhatan isi hatinya. Kesulitan yang ia alami dalam menulis karya pertamanya adalah tidak adanya seorang wanita sebagai inspirasinya. Kesulitan kedua adalah dalam mempelajari hal-hal baru yang terlalu jauh dicapai. Hal terpenting yang dilakukan penulis adalah menentukan gaya penulisannya dengan cara khas. Dalam membangkitkan semangat menulis biasanya ia meluangkan waktu untuk dirinya sendiri, istilah saat ini kerap disebut ‘Me Time’. Karya-karyanya yang sudah diterbitkan adalah Terima Kasih Wanitaku (Ellunar Publisher, 2017), Lingkar Kompleksitas (Orbit Indonesia, 2019) dan Bentang Sayap Hari Putih (Asbanabook, 2019).
Tulisan-tulisannya telah banyak tersiar di berbagai koran dan media daring, seperti Takanta.id, Nusantara News, Kawaca.com, Penakota.id, majalah Simalaba, Riau Pos, Palembang Ekspress, Radar Cirebon, Kabar Cirebon. Pada tahun 2019 tulisan-tulisannya termuat dalam buku antologi puisi terbaik (nasional) Matinya Si Pemuda (OASE Pustaka, 2019). Kemudian tulisan-tulisannya juga terpilih dan diabadikan di Kantung Budaya @Leitstar_id serta dipamerkan dalam festival SHFT Jakarta tahun 2019, serta telah dialihwahanakan dalam bentuk drama berjudul Berpulang oleh HMJ Diksatrasia dan dalam bentuk lagu (Berpulang, Bahagia itu Luka, dan Malam Lengang Malam Pertanyaan) oleh Ade Arthur.

Menjadi penulis syair muda dijalani Adithia mulai tahun 2017. Seorang penulis muda satu ini selalu mempunyai gaya penulisannya sendiri mengenai wanita, Tuhan,  bahkan diriya sendiri banyak dikenal mahasiswa. Ia aktif dalam mengikuti kegiatan kampus. Tulisannya yang gaduh itu membuat Adithia Syahbana disegani oleh banyak orang.




.

Adithia Syahbana : Membentuk Gaya Penulisan Diri untuk Penulis


Adithia Syahbana : Membentuk Gaya Penulisan Diri untuk Penulis

Aku, tuhan, Kamu
Oleh Adithia Syahbana

Aku melihat tuhan padamu
Namun kamu tak seperti tuhan.

"Bolehkah seperti itu?"

tuhan melihat aku padamu
Namun kamu tak seperti aku.

"Ini bohong?"

Kamu melihat aku pada Tuhan
Namun aku tak seperti Tuhan--

;Dalam mencintai.

[ 2019 ]
Lelaki berumur 22 tahun ini tercatat sebagai mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UGJ dan dikenal sebagai penyair muda. Ia seorang yang populer dikalangan kampusnya, dengan dirinya nya yang aktif dan memiliki keunikan dalam menulis menjadi suatu kekhasannya.
‘Adithia’ atau ‘Adit’ kerap menjadi nama panggilan kesehariannya. Adithia Syahbana dilahirkan 6 Desember di Cirebon, Jawa Barat. Kini ia bertempat tinggal di desa Karang Malang RT/RW  : 02/05, kecamatan Karang Sembung, kabupaten Cirebon,  Jawa Barat. Ia menyelesaikan jenjang pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 2 Karang Malang tahun 2011. Kemudian melanjutkan jenjang sekolah menengah pertama di SMP Negeri 1 Karang Sembung sampai tahun 2014 dan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Lemahabang sampai tahun 2017. Ia melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi dan mengenyam pendidikan di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ia mulai menulis ketika kelas 2 SMA, Awalnya ia menulis cerpen dan novel tentang kehidupan, cinta dan teman di akun media sosial yang ia miliki. Teman-temannya pun tertarik dengan hobi nya tersebut hingga meminta dibuatkan kisah hidupnya. tetapi, ia merasa tak sanggup menyelesaikan tulisan itu sampai menjadi buku. Pada saat memasuki jenjang perguruan tinggi, ia bertemu teman baru dan dosen yang mengarahkan hobinya ke puisi. kemudian ia mengikuti komunitas “Juang sastra Unswagati” dan “Senja Sastra” dan mulai saat itu ia menekuni hobinya sebagai penulis. Motivasi Adithia Syahbana menjadi seorang penulis awalnya hanya sebagai terapi diri dan menjadi diri sendiri dari kehidupannya yang gaduh dan resah untuk menyehatkan pikirian dan perasaannya yang sebenarnya sehingga ia menyampaikannya melalui tulisan yang ia tulis.
Adithia Syahbana bersama kang 
Acep Zamzam Noor
/Foto dok. Instagram as.bana_

       Pada saat menulis karyanya ia sempat mengalami kesulitan dalam menulis dan sempat berhenti menulis. Lingkar Kompleksitas yang merupakan salah satu dari karyanya itu sempat menjadi bahan diskusi dengan salah satu lima penyair terbesar di Indonesia yang bernama kang Acep Zamzam Noor dan kemudian diberi pencerahan oleh beliau bahwa “dunia kepenyairan adalah dunia belajar yang tiada henti”. setiap buku yang diliris oleh adithia ini kerap kali membicarakan tentang seorang wanita yang menjadi idenya dalam menulis dan menjadikan tulisannya sebagai curhatan isi hatinya. Kesulitan yang ia alami tersebut dalam menuliskan karyanya yang pertama tidak ada seorang wanita yang menjadi inspirasinya dan kedua kesulitan dalam mempelajari hal-hal baru yang terlalu jauh dicapai. hal yang terpenting yang dilakukan penulis adalah menentukan gaya penulisannya dengan cara khas. Dalam membangkitkan semangat menulis biasnya ia meluangkan waktu untuk dirinya sendiri, istilah saat ini kerap disebut ‘Me Time’. Karya-karyanya yang sudah diterbitkan adalah Terima Kasih Wanitaku (Ellunar Publisher, 2017), Lingkar Kompleksitas (Orbit Indonesia, 2019) dan Bentang Sayap Hari Putih (Asbanabook, 2019).

Tulisan-tulisannya telah banyak tersiar di berbagai koran dan media daring, seperti Takanta.id, Nusantara News, Kawaca.com, Penakota.id, majalah Simalaba, Riau Pos, Palembang Ekspress, Radar Cirebon, Kabar Cirebon, dan lainnya. Lalu pada tahun 2019 tulisan-tulisannya termuat dalam buku antologi puisi terbaik (nasional) Matinya Si Pemuda (OASE Pustaka, 2019). Kemudian tulisan-tulisannya juga terpilih dan diabadikan di Kantung Budaya @Leitstar_id serta dipamerkan dalam festival SHFT Jakarta tahun 2019, serta telah dialihwahanakan dalam bentuk drama berjudul Berpulang oleh HMJ Diksatrasia dan dalam bentuk lagu (Berpulang, Bahagia itu Luka, dan Malam Lengang Malam Pertanyaan) oleh Ade Arthur.
Menjadi penulis syair muda dijalani Adithia mulai tahun 2017. Seorang penulis muda satu ini selalu mempunyai gaya penulisannya sendiri mengenai wanita, tuhan bahkan diriya sendiri dan banyak dikenal mahasiswa. ia aktif dalam mengikuti kegiatan kampus, tulisannya yang gaduh itu. inilah yang membuat Adithia Syahbana disegani oleh banyak orang.

Rabu, 20 Mei 2020

Resensi Novel My Ice Girl

Judul Buku : My Ice Girl
Penulis : Pitsansi
Penerbit : Bentang Belia
Terbit : 2018



























Sinopsis Novel My Ice Girl
        
      Novel ini mengisahkan tentang anak yang pindah ke sekolah baru karena ingin menyelidiki kasus pembunuhan adiknya. Ia adalah laki-laki playboy di sekolah lamanya. Baru beberapa bulan ia pindah ke sekolah baru ia sudah banyak dikenal siswa/i lainnya. Nama ia adalah Malik. Ketika Malik berada dikoridor kantin, matanya tertuju pada pesona lesung pipi yang dimiliki gadis bernama Dara. Malik menggelar konser dadakan dikoridor kantin untuk menarik perhatian Dara. Namun sayang, pesona itu tidak mempan untuknya. Dara tahu reputasi malik yang buruk. Sikap Dara yang berbeda dengan mantan kekasih nya dulu, membuatnya tertantang untuk merebut hatinya. Terlebih lagi ada Gino, kapten tim futsal yang disukai Dara. Keadaan ini membuat mereka mengalami kisah cinta segitiga.
       Inti kisah novel ini adalah tentang Malik yang ingin menyelidiki kematian Manda, adiknya. Selain itu, Malik berjuang terus menerus mendekati Dara hingga hatinya luluh kepadanya. Perlahan ia juga menemukan beberapa petunjuk yang memacu pada kasus pembunuhan adiknya. keadaan tersebut membuat Malik menjadi bingung. Mengapa petunjuk kematian adiknya mengarah pada Dara. mungkinkah Dara terlibat pada kematian adiknya?. Semakin Dara menjauh dari Malik, entah kenapa takdir mendekati mereka. Kedua orang tua mereka ternyata berteman dan mereka tinggal bertetanggaan disatu kompleks. Perlahan Dara mulai luluh hatinya karena pertolongan Malik di pesta ulang tahun sahabatnya sehingga membuat jantungnya bereaksi aneh saat menatap malik. Disamping itu pelaku dibalik kasus kematian Manda semakin mengerucut dan petunjuk terus bermunculan, apakah Malik dapat menemukan pelaku sebenarnya ? dan bagaimana jika kenyataannya Dara juga terlibat dengan kematiannya adiknya? petunjuk yang ia temukan membuat malik takut kehilangan kebersamaan kalau salah seorang sahabatnya terlibat.

Kelebihan :
Dilihat dari aspek isinya tentang kisah remaja yang membuat pembaca penasaran tentang kisah mereka karena konfliknya berjalan sesuai alur dan kompleks serta ceritanya yang memberikan teka-teki yang dibuat sulit ditebak pembaca.

Kekurangan :
Dilihat dari cover yang digunakan tidak begitu menarik karena tema cover dengan tulisan berbeda, seharusnya dibentuk sesuai isi cerita yang terdapat dalam nover tersebut.

Artikel Halaman Opini

                    Dunia Baru Pendidikan di Tengah Pandemi      Semasa pandemi ini banyak sekali perubahan yang terjadi di negeri ini, bahk...